Banana Queen Chips adalah salah satu oleh-oleh khas dari Dusun Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Produk dengan tekstur seperti keripik pisang ini terbuat dari pisang matang sehingga rasa manis yang terkandung dalam keripik pisang murni dari madu pisang, bukan dari pemanis. Pemilik perusahaannya adalah Ardhi Setyo Putranto, perusahaan pertama yang menghasilkan keripik pisang dari pisang matang, organik dan tanpa gula yang ditambahkan. Biasanya produsen keripik pisang lebih memilih bahan baku dari pisang mentah karena pisang mentah lebih mudah diolah. Pasalnya, di dalam pisang matang ada beberapa faktor yang harus dikontrol untuk menghindari terjadinya karamelisasi atau kecoklatan (hangus).

Banana Queen lebih enak, praktis, dan bergizi. Ratu pisang mengandung gula alami yang berasal dari madu pisang sehingga aman dikonsumsi penderita diabetes. Ardhi  memulai bisnis Banana Queen sejak 1 November 2011, memilih bisnis ini karena menangkap peluang pada pisang matang. Biasanya sebagian besar pisang hanya digunakan sebagai pakan ternak. Kemudian muncul ide bahwa sebenarnya madu pisang jika diolah dengan sentuhan teknologi, hasilnya akan luar biasa. Ardhi dipercaya oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X untuk mengembangkan desa tertinggal di Gedangsari Gunung Kidul dan sampai saat ini telah memberdayakan 80-100 petani pisang sebagai pemasok di pabriknya.

Banana Queen salah satunya diproduksi di rumah Bapak Tugiman, Kepala Desa Mertelu Gedangsari Gunung Kidul. Terdapat sekitar 10 Karyawan yang bekerja disana. Karyawan tersebut berasal dari pemuda Mertelu yang tidak memiliki pekerjaan sebelumnya. Banana Queen yang diproduksi di Gedangsari memiliki 3 varian rasa yaitu original, choco cookies dan sweet corn. Proses pembuatannya tergolong mudah. Pak Tugiman menjelaskan beberapa proses pembuatan Banana Queen yaitu mempersiapkan bahan baku, mengelola pisang, menggoreng pisang, mencampur cokelat dengan pisang, kemudian pengemasan, dan yang terakhir penjualan. “Bahan baku Banana Queen adalah pisang yang terdapat di Gedangsari sendiri. Kemudian diolah dan digoreng hingga menjadi seperti kripik pisang. Setelah itu baru dicampur dengan cokelat dengan berbagai rasa. Pengemasan Banana Queen dibuat dengan sangat praktis dan menarik karena untuk menjaga kualitas kebersihan dan keindahannya. Sekarang ini Banana Queen menjadi oleh-oleh khas Mertelu yang laris di pasaran. Satu bungkus Banana Queen dibandrol harga Rp 12.000,00 namun biasanya pembeli lebih memilih paketan seharga Rp 60.000,00 yang berisi 5 bungkus” terang Pak Tugiman.

Produksi Banana Queen dijadikan sebagai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) oleh masyarakat Mertelu. UMKM selain berperan dalam pertumbuhan pembangunan dan ekonomi, juga memiliki kontribusi yang penting dalam mengatasi masalah pengangguran. Peran UMKM juga dikatakan mendominasi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia yang dikutip dari CNN Indonesia, disebutkan bahwa kontribusi UMKM meningkat cukup tinggi dari 57,84 persen menjadi 60,34 persen. Dari segi tenaga kerja, serapan tenaga kerja sektor usaha kecil juga meningkat dari 96,99 persen menjadi 97,22 persen. Hal ini membuktikan bahwa sektor UMKM menjadi tumpuan utama bagi ekonomi Indonesia. Tanpa adanya UMKM, tingkat pendapatan dan kemampuan beli masyarakat kecil tidak akan meningkat. Sehingga secara strategis UMKM memiliki peran dalam mengentaskan kemiskinan dan pengangguran (goodnewsfromindonesia.id). Hal ini menjadi acuan bagi Masyarakat mertelu untuk meningkatkan produksi Banana Queen di berbagai rumah sebagai UMKM di gedangsari untuk mengurangi pengangguran dan memanfaatkan potensi lokal. Harapan dari masyarakat mertelu sendiri dapat mengembangkan produk ini hingga pemasaran yang lebih luas.