Setiap tahun dalam rangkaian acara penyambutan hari kemerdekaan atau 17-an, warga kelurahan Podosugih, kecamatan Pekalongan Barat selalu mengadakan acara pasar jajan gratis. Pasar jajan gratis itu tidak dilakukan secara serentak, tetapi bergiliran sesuai dengan kemauan masyarakat.

Pasar jajan gratis ini merupakan acara yang sangat ditunggu-tunggu setiap warga di podosigih. Setiap rumah mulai dari ujung gang barat hingga timur, membuka lebar-lebar pintu rumahnya dan menggelar karpet atau tikar, serta menjajakan berbagai makanan yang  disediakan oleh tuan rumah. Setiap rumah memiliki kebebasan menentukan jenis makanan yang disajikan, seperti opor ayam, bakso, siomay, soto, pindang tetel, berbagai macam roti, serta minuman seperti teh, sirup, wedang ronde, air mineral, ice cream, es buah dan masih bayak lagi.

Selain berbagai jajanan dan makanan yang di sediakan , juga ada pula rumah yang menyediakan berbagai permainan atau game berhadiah, seperti lempar bola kecil ke gelas, permainan kasino atau putar roda nomer, lempar sasaran dan masih banyak game lainnya yang menarik, tentunya dengan beragam hadiah yang menarik pula, tentu semakin menambah meriahnya pasar jajan gratis di kelurahan podosigih.

Dengan tradisi itu, ribuan warga bebas mendatangi setiap rumah yang menyediakan makanan gratis. Semua orang, baik yang kenal maupun tak, bebas bertamu. Tamu yang akan berkunjung pun bermacam-macam. Tuan rumah tidak pilih-pilih. Baik yang dikenal maupun tidak, bisa datang dan tidak mungkin ditolak. Hanya, biasanya kalau yang datang rombongan, ada satu di antaranya yang sudah dikenal, sehingga bisa berkomunikasi dengan baik. Meski demikian, tamu yang datang belum dikenal pun tidak menjadi masalah, sebab tuan rumah justru akan lebih senang, jika hidangan yang disediakannya cepat habis.

Dengan pesta pasar jajan itu, suasana di Podosugih pada malam hari terlihat semarak. Pemuda, pemudi, maupun orang tua dengan mengajak anak-anaknya, sumingrah (ceria) mendatangi sanak familinya, sekadar untuk silaturahmi dan makan gratis.

Waktunya setelah maghrib hingga malam hari. Pokoknya, tuan rumah akan menutup pintu, setelah makanannya habis atau tamu sudah sepi.

Untuk penyediaan makanan itu, di antara mereka ada yang mengundang pedagang untuk datang ke rumahnya melayani para tamu. Misalnya pedagang bakso, soto, dan bakmi. Itu bagi keluarga yang tidak sempat melayani sendiri; dan itu wajar, karena tamu yang datang pun jumlahnya mencapai lebih dari 100 orang, bak punya hajatan saja.

Karena itu, tidak heran jika tuan rumah yang menyediakan makanan enak seperti soto, bakso, opor ayam, dan pindang tetel, menjadi sasaran “serbuan” para remaja dan anak-anak. Mereka berputar ke tempat-tempat yang pada malam itu menyelenggarakan pasar jajan gratis. Dengan demikian, bagi yang senang bertamu, perutnya akan cepat penuh makanan gratis.

Serbuan para tamu itu, bukannya membuat tuan rumah mengeluh, tetapi justru merasa senang, seolah-olah jualannya laku keras. Setelah makanan habis, barulah rumahnya ditutup, tak menerima tamu lagi.

Bagi warga Podosugih, acara pasar jajan gratis ini tidak hanya kemeriahan yang menjadi tujuan utamanya, namun kebersamaan dan silaturahim yang lebih utama. Seperti yang dikatakan oleh Rw.07, bapak Sudarwo “Terpenting itu kebersamaan dan guyub rukunnya, sebagai tolak ukur bahwa masyarakat Podosugih senantiasa mengedepankan persaudaraan antarsesama, baik dengan tetangga maupun saudara dan teman-teman.”