Proses untuk mendaki cita-cita tidak bisa instan seperti mie dan kopi seduhan. tetapi proses panjang harus dilewati pula. Untuk sampai pada lembar skripsi, kami harus menempuh KKN atau Kuliah Kerja Nyata, dengan syarat diwajibkan lulus dalan tes membaca AL-Qur’an.

Kuliah Kerja Nyata adalah satu batu loncatan wajib, kalau kami mau mengenakan toga secepatnya. Perkenalkanlah kami, Divisi II. D.1 dari KKN Regular 62. Divisi ini terdiri dari mahasiswa teknik elektro, pendidikan matematika, pendidikan guru sekolah dasar, sastra indonesia, psikologi, ekonomi pembangunan, manajemen, komunikasi, dan teknik informatika. Dari latar belakang yang berbeda, kami ditempatkan dalam wadah yang sama. Saat pengumuman pembagian lokasi, kami mendapat dusun Gumulan, Caturharjo, Pandak, Bantul. Pertama kali menjajaki lokasi tersebut yang terlintas dalam pikiran kami adalah “wah jauh ya. jauh dari keramaian kota”.

Siang itu kami mengawali kisah kami dengan disambut gerimis di dusun yang akan kami jadikan tempat berteduh, tempat bernaung selama sebulan penuh dengan keluarga yang berbeda karakter yang otomatis akan menjadi tugas kita untuk saling menyatukan pendapat, karakter bersama-sama dalam satu wadah. Yang menjadi hal tersulit adalah perjalanan menuju mendekat kepada Tuhan, jarak yang tidak seberapa, yang tidak perlu banyak menghadapi rintangan namun tetap saja ujian dari dalam niat yang terkadang membuat gejolak batin yang menjadi musuh dalam diri kami. Hanya dengan berjalan kaki lima menit saja kita sudah bisa mendekat dan bercumbu denganNya. Tempat yang nyaman, jauh dari hiruk pikuk sekaligus mengistirahatkan pikiran untuk bisa lebih dekat dengan Tuhan.

Sebelum menempati lokasi, kami sudah mempersiapkan untuk menyusun program dan mempersiapkan segalanya. Mulai dari program kerja keilmuan, keagamaan, seni dan olahraga ditambah tematik untuk individu dan juga program kerja bersama yang tentu tak kalah padatnya. Kami menghabiskan waktu untuk mempersiapkannya, dan pada saat itu pun bertepatan dengan bulan suci ramadhan, kami harus ikhlas terkadang setelah tarawih meluangkan waktu untuk berkumpul sejenak membahas program kerja bahkan siang hari yang terik, bercampur dengan kerontangnya dahaga karena menahan haus bahkan musik keroncong dalam perut kosong sebab kami tengah berpuasa. Apapun itu kami harus siap sedia kedepannya dan semoga keberkahan menaungi kita semua.

Tibalah waktu dimana kita akan menetap di dusun, kami ditempatkan di rumah yang luas dan terdapat seperangkat alat musik gamelan yang mendengarnya saja terkadang membuat bergidik, terlepas dari kisah-kisah yang berbau mistis padahal gamelan adalah alat musik yang tradisional yang menjadi tradisi khususnya orang-orang dari kalangan Jawa, gamelan yang digunakan sebagai pengiring dalam sebuah acara resmi atau menjadi pertunjukan bagi para pemainnya. Rumah Bapak Suyatno, selaku dukuh Gumulan. Kami disambut dengan baik, diberikan tempat tidur dengan bed kasur lengkap dengan bantalnya. Dapur yang akan menjadi tempat masak kami sehari-hari, namun harus menerima lapang dada karena kamar mandi yang terletak diluar rumah, karena kami belajar untuk menerima keadaan bukan menyerah pada keadaan. Pertama kali ditempat itu, kami mulai bersosialisasi dengan cara hidup masyarakat melalui pak dukuh.

Kami mandi dengan satu kamar mandi dan otomatis sabar antri dengan kami bersembilan ini ditambah dengan pak dukuh, ibu, nenek dan putra pak dukuh. Disinilah kami belajar untuk saling bertoleransi dan hidup rukun satu sama lain. Terbiasa antri memang namun perasaan itu berbeda ketika antri dirumah yang akan menjadi tempat berteduh kita selama sebulan. Pak dukuh memiliki bak air kecil namun sumber air yang berasal dari sumur memudahkan untuk penggunaan air namun pernah suatu ketika air mati dan kita berlari untuk ke kamar mandi mesjid, cukup merepotkan dan melatih kesabaran. Kami harus menjalankan program kerja yang padat dari matahari terbit hingga tenggelam. Dimana terik matahari dan angin yang kencang menyebabkan suasana rumah menjadi panas dan kotor sehingga membangkitkan gairah untuk membersihkan rumah setiap hari, diwaktu pagi kami berbagi tugas untuk memasak, mengepel lantai, dan menyapu halaman. Istimewanya kami selalu seperti itu bahkan akan menjadi kenangan ketika sudah penarikan nanti.

Sejak awal sebelum penerjunan , kami mempunyai rencana untuk memasak sendiri. Artinya kami tidak meminta bu dukuh untuk memasaki kami. Kebetulan rumah pak dukuh dekat dengan pasar dan kami merasa tenang saat itu namun ternyata bu dukuh memberi informasi bahwa pasar hanya buka setiap seminggu dua kali, kami menjadi bingung dan tentunya harus membeli lauk dan sayur untuk disimpan di dalam kulkas. Atau bahkan kita mencari pasar hingga ke Sanden untuk mencari sayuran dan lauk untuk kami masak, jauh memang namun harus bagaimana lagi, itulah pemula menjadi seorang pejuang. Kami makan seadanya, sebisanya dan sedapatnya dan tidak lupa kami membeli mie dan telur kalau-kalau saja pasar kembali tidak buka. Mencari tukang sayur yang lewat pun terbilang tidak ada, maka kami pun harap harap cemas untuk bersiap mencari keluar untuk membeli sayuran. lagi, lagi dan lagi.

Selama KKN juga, anak-anak kecil sangat antusias, para pemuda yang setiap malam berkumpul untuk sekadar mengobrol dengan kami, minum kopi bersama bahkan tidur di posko kami. Dusun yang kami tempati ini terbilang mempunyai RT yang banyak sekali dibandingkan dengan dusun-dusun yang lain. Dusun kami mempunyai RT dari 1 sampai 10, belum lagi para pemuda-pemudi yang harus kami ketahui, kadang kala kami diundang dalam acara para pemuda-pemudi mereka, dan terkadang RT satu dengan yang lain mengadakan acara yang bersamaan secara otomatis kami terpecah dan membagi menjadi beberapa orang untuk mewakilkan ke RT satu kemudian yang lainnya RT lain, begitu seterusnya. Kami menjaga untuk tetap bertoleransi dan menjaga untuk tidak menimbulkan kecemburuan sosial antar RT. Anak-anak yang selalu datang setelah pulang sekolah sekitar jam 1 sianng untuk bimbingan belajar atau sekadar bermain congklak, membuat gelang atau kertas origami. Tenaga mereka seolah tak ada habisnya dibandingkan kami yang berlagak kuat dan tahu-tahu ada saja yang ketiduran diatas tikar karena usai kegiatan dari pagi kami langsung memulai bimbingan pada siang harinya. Seringkali anak-anak yang melihat kami tidak bersembilan, menjadi pertanyaan silih berganti “kemana mbak ini, kemana mbak itu” kemana mas ini, kemana mas itu” pada sore harinya jam 3 kami mengajarkan mereka TPA di mesjid Ngambah, pada saat TPA anak-anak pun lebih banyak dan melihat kami belum turun dari motor saja mereka sudah bersorak sorai, sudah berteriak dari kejauhan “mas…..mbak KKN” kami merasa sangat tersanjung dan tidak menyangka mereka sangat antusias. Anak-anak itu secara tidak langsung mengajarkan kami untuk memainkan naluri sebagai seorang orang tua, kakak bagi mereka. Kami berlatih untuk menjadi seorang bapak, seorang ibu yang harus menuruti rengekan anaknya yang mau itu, yang mau ini. Bahkan kami tidak bisa sedikit pun marah atau menolak. Kami mulai mencintai dusun ini tanpa dalam hitungan minggu.

Saat kami melakukan silaturahmi ke ketua-ketua RT, kami harus berkunjung ke 10 RT. Kami harus menempuhnya dengan mengendarai sepeda motor karena jika ditempuh dengan berjalan kaki jarak antar RT satu dengan RT yang lain sangat jauh dan tidak memungkinkan juga karena sudah malam hari. Kami melewati jalan yang rusak dan banyak bebatuan juga penerangan jalan yang kurang sehingga membuat kita untuk berhati-hati mengendarai motor dengan pelan, belum lagi medan yang ditempuh sangat mengerikan ketika di RT 10 Gunung Butak kami menelusuri suasana yang sudah gelap, jalan mendaki dan melewati hutan atau biasa disebut Watu Kemloso. Tidak apa-apa asal kita tetap sadar dengan rasio kehati-hatian juga berdoa dalam hati untuk waspada.

KKN kami tepat bersamaan dengan Agustusan atau hari kemerdekaan tentunya banyak berbagai macam lomba dari RT 1 sampai RT 10, kembali memutar otak dan berbagi jadwal masing-masing kami untuk satu sama lain perwakilan ke RT untuk menyiapkan lomba dan terkadang kami menjadi MC. Sesudah perlombaan kala siang itu kami diajak salah satu pemuda untuk bersinggah ke rumahnya dan kami diajak untuk meminum degan, kebersamaan kami dengan para pemuda membuat kami terenyuh dan tidak menyangka akan seperti ini, keluarga baru yang membuat kami semakin sulit untuk keluar dalam ruang lingkup kebersamaan ini. Perlombaan yang diadakan di Dusun ini sangat meriah dan mengasyikan tentunya kekeluargaan yang kami rasakan sangat erat dibandingkan dengan perlombaan yang diadakan di kota-kota, ada salah satu perlombaan yaitu menangkap lele, disana para warga menangkap lele di kali. Walaupun lomba tersebut untuk perorangan namun tidak dengan para masyarakat, seperti pada seorang bapak yang sulit menangkap lele akibat licin dan seorang pemuda yang menolong bapak tersebut. Sungguh pelajaran hidup dalam perlombaan yang tidak mengandalkan diri sendiri dan mengutamakan kebersamaan. Dan kegiatan yang paling mengesankan adalah ketika dari minggu awal sampai pada titik akhir kami mengikuti kegiatan jalan sehat, baik yang diadakan di setiap RT atau bahkan se pedukuhan, rute yang kami lewati memang terbilang jauh namun antusias dan semangat para masyarakat membuat hipnotis kami untuk semangat mengikuti kegiatan, dan kami berbagi cerita, berbagi pengalaman terhadap masyarakat setempat.

Setiap Jumat kami mengagendakan membersihkan mesjid atau musholla, rasa lelah terbayarkan dengan melihat mesjid dan musholla yang bersih sehingga membuat masyarakat dan anak-anak semakin bersemangat untuk ke mesjid. Banyak sekali pelajaran hidup yang kami temukan, rasakan, dengarkan. Ternyata kami harus menjadi orang yang pandai bersyukur atas nikmatNya karena masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Tidak ada kemewahan di tempat ini, yang ada hanyalah orang-orang yang bersahaja, orang orang yang kuat dengan semangat hidup yang luar biasa. Rasanya tidak cukup jika hanya menulis di atas lembaran lembaran kertas yang kemudian disimpan dalam file namun semua akan tersimpan secara otomatis dalam pengingat kita, berbagai kenangan dan pelajaran yang luar biasa. Kelak cerita kami akan sampai di telinga anak-anak kami, cucu kami, dan ini adalah perjalanan hidup kami susah, senang menjadi sebuah cerita penuh makna. Terima kasih Allah swt, Terima kasih KKN, Terimakasih Gumulan.