Padang Bulan. Ketika kata ini terdengar di telinga, tentu beragam hal yang terbayang dibenak kita. Mungkin terbayang sebuah kota dipenghujung pulau Sumatra, bisa pula terlintas bayangan tempat yang luas dipenuhi rerumputan, atau mungkin malah teringat akan sebuah gunung yang berada di daerah Jawa Barat. Tentu ada banyak gambaran yang memenuhi pemikiran kita.

Kata ‘Padang Bulan’ sendiri merupakan gabungan leksem/kata. Jika menilik kamus besar bahasa Indonesia, kata ‘padang’ berarti tanah yang datar dan luas (tidak ditumbuhi pohon-pohon yang berkayu besar). Kemudian, kata ‘bulan’ memiliki dua makna. Makna yang pertama yaitu bulan diartikan sebagai benda langit yang mengitari bumi, bersinar pada malam hari karena pantulan sinar matahari, sedangkan makna yang kedua bulan berarti masa atau jangka waktu perputaran bulan mengitari bumi dari mulai tampaknya bulan sampai hilang kembali (29 atau 30 hari).

Bagi masyarakat Jawa, kata ‘padang bulan’ sering diartikan terang bulan atau malam yang penuh dengan cahaya rembulan, karena kata ‘padang’ dalam bahasa Jawa berarti terang. Kondisi malam yang terang benderangdan penuhcahaya oleh masyarakat Jawa biasanya sering dimanfaatkan untuk berbagai hal. Misalnya, mengadakan acara kumpul-kumpul bersamakeluarga, kerabat, atauteman, makan bersamateman-teman, atau sekedar duduk-duduk diberanda rumah dan mengobrol hangat.Bahkan anak-anak senang berlarian di bawah sinar bulan bersama teman-temannya.Mereka memainkan permainan, terkadang hanya berkejaran keliling halaman rumah atau lapangan.

Begitu pula dengan warga yang beradadi kelurahan Sonosewu Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Momen padang bulan inidimanfaatkan olehwarga untuk menyelenggarakan kegiatan pengajian yang diadakan di halaman masjid, di bawah sinar rembulan. Pengajian ini rutin diadakan setiap bulan purnama dan dihadiri oleh masyarakat sekitar masjid.Mulai dari anak-anak, remaja, hinggapara orang dewasa dan lansia ikut serta ketika pengajian tersebut digelar.