Desa Tirtohargo, Kretek, Bantul terkenal dengan hasil pertanian bawang merah. Brambang atau bawang merah merupakan penghasilan pokok Desa Tirtohargo. Brambang atau bawang merah dikenal hampir di setiap Negara dan wilayah tanah air. Tanaman ini banyak dibudidayakan di daerah dataran rendah yang beriklim kering dengan suhu yang cukup panas dan cuaca yang cerah. Brambang atau bawang merah di Desa Tirtohargo bermacam-macam jenisnya dari yang lokal hingga jenis nonlokal seperti brambang Thailand dan sebagainya. Ada pula jenis campuran yang biasanya disebut crok. Pemilihan jenis bibit brambang bukan merupakan bagian pokok dari penanaman brambang. Kualitas brambang yang dihasilkan akan baik dan buruk tergantung dengan pengairan, pemupukan dan musim yang sedang berjalan. Jika terlalu banyak kadar air, akan membuat brambang itu rusak atau memutih.  Pemanenan tanaman brambang serentak dilakukan setiap tiga bulan sekali dengan tujuan untuk menyerempakkan dalam system pemasaran. Model penanaman brambang di desa Tirtohargo digolongkan dalam model tumpangsari. Tumpangsari merupakan penanaman dengan dua bibit atau lebih. Tumpangsari disini tanaman brambang dan cabai yang nantinya akan dipanen secara bergantian dengan jeda yang tidak lama.

Petani brambang memasarkan dengan pengepul yang mereka percayai dengan sistem tebas. Sistem tebas adalah pembelian hasil tanaman sebelum dipetik. Brambang  setelah berada di tangan pengepul akan diproses lagi dengan penjemuran lalu pemotongan daun-daun brambang yang bertujuan untuk mengurangi kandungan air sehingga dapat bertahan lebih lama, kemudian berakhir dengan pengemasan dan penjualan ke pasar-pasar besar. Kendala yang dialami petani brambang  adalah pengepul yang terkadang tidak langsung membayar sesuai dengan batas waktu yang ditentukan, selain permasalah dengan pengepul petani juga memiliki beberapa permasalahan eksternal, di antaranya adalah :

  1. Harga bawang merah menjadi turun di pasaran dikarenakan jumlah pasokan bawang merah yang melimpah akibat kurangnya managemen pemasaran yang tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah.
  2. Cuaca yang tidak menentu dapat mengakibatkan petani di Desa Tirtohargo sering kali menghadapi kesulitan dalam proses perawatan karena bawang merah gampang busuk.
  3. Petani di Desa Tirtohargo mengalami kesulitan dalam memasarkan bawang merah ketika panen besar dikarenakan pemerintah juga mengimpor bawang merah dengan harga yang jauh lebih murah.

Bawang merah pada umumnya digunakan sebagai bumbu masakan. Bawang merah sering kali menjadi bumbu wajib pada masakan karena bawang merah menjadi penguat rasa bagi masakan. Selain itu bawang merah adalah makanan padat nutrisi yang berarti rendah kalori. Adapun manfaat bawang merah diantaranya bisa mengatasi perut kembung dan dapat meredakan batuk, biasanya menggunakan irisan bawang merah  yang ditambahkan dengan minyak.

Bawang merah selain mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan ada pula resiko kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan yaitu dapat mengakibatkan iritasi lambung, muntah, mual, dan pembakaran. Namun hal itu bisa teratasi apabila kita bisa mengkonsumsi dan memanfaatkan bawang merah dengan bijak. Dengan demikian, masyarakat Tirtohargo sebaiknya bisa lebih baik dalam mengelola kearifan lokal yang dimiliki sehingga bisa meningkatkan perekonomian penduduk dan memberikan manfaat untuk lingkungan sekitar.