Mbah Joyo seorang janda hidup seorang diri di rumahnya tercinta. Dia di tinggal suaminya sorang diri, suaminya meninggal dunia dan dia tidak mempunyai seorang anak dari pernikahannya dengan suaminya. Mbah Joyo tinggal sebatang kara di rumahnya.

Mbah Joyo tinggal di rumah yang berukuran cukup sempit. Dia tinggal di pinggiran kali RT 33 RW 8 Desa Sukorejo. Rumahnya berdiri di pinggiran kali dan di bangun dia atas tanah milik pemerintah. Rumahnya yang sangat sederhana adalah rumah yang tidak memiliki izin. Mbah Joyo tinggal di rumah sederhananya dengan di temani oleh beberapa ekor kucing dan ayam peliharaannya.

Mbah joyo sehari-hari tinggal bersama kucing dan ayam-ayam peliharaannya di dalam rumahnya itu. Dia menempatkan kandang hewan periharaannya di dalam rumah, sehingga Mbah Joyo tidur bersama semua hewannya. Keadaan rumah yang kurang bersih karena kotoran yang di timbulkan dari hewan-hewan peliharaannya, membuat siapa saja yang masuk ke dalamnya akan merasa terganggu penciumannya. Dengan keadaan tempat tinggal yang jauh dari layak dan bersih Mbah Joyo menghabiskan hidupnya tinggal di kediamanyan.

Mbah Joyo bekerja sebagai penjaga orang sakit di rumah sakit. Dia menemani pasien yang keluarganya tidak dapat menemani pasien di rumah sakit. Mbah Joyo bertugas menemani pasien selama keluarga pasien tidak ada di rumah sakit atau berhalangan hadir. Setiap pagi dia pergi ke rumah sakit untuk bekerja demi sesuap nasi.

Dengan perjaannya sebagai penunggu orang yang sakit membuat Mbah Joyo hidup dengan penuh kesederhaanya.

Kehidupan Mbah Joyo membuat semua orang ingin membantu Mbah Joyo untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Anak-anak KKN PPuN Universitas Ahmad Dahlan bekerja sama dengan Lazismu untuk membangun rumah Mbah Joyo menjadi rumah yang jauh lebih layak untuk dihuni. KKN PPuN UAD dan Lazismu memulai bedah rumah pada tanggal 17 agustus 2017 dengan membongkar rumah Mbah Joyo. Mahasiswa KKN PPuN UAD di bantu oleh 3 tukang bangunan yang biasa bekerja membangun rumah di daerah Sukorejo. Pembanguna yang di laksanakan selama 12 hari menghasilkan rumah semi permanen.

Rumah Mbah Joyo dengan adanya program bedah rumah menjadi rumah yang jauh lebih layak dan kokoh dari rumahnya yang sebelumnya. Rumahnya yang sekarang adalah istana yang sangat dia impikan dari duu. Rumah yang dapat menaunginya dari panas matahari dan melindunginya dari dingin dan basahnya hujan.

“matur suwun sampun mbangun griyo kula dados luweh sae. Kula mboten saget mbales nopo-nopo. Kulo doaken mugi-mugi panjenengan sedanten diwenehi kelancaran lan kemudahan salam meraih cita-cita panjenengan sedanten.” tutur ,bah Joyo saat di datangi oleh Mahasiwa KKN. Dia bercerita sampai mencucurkan air matanya karena terharu dan bahagia bahwa di sisa umurnya dia masih bisa merasakan tinggal di tempat yang layak untuk dirinya sendiri.

Mbah Joyo kini bisa tinggal di rumah yang layak seperti tetangganya yang lain. Walupun rumah yang dia tempati sekarang hanya rumah semi permanen tapi dia merasa sangat senang dan bahagia. Meski sewaktu-waktu rumah yang dia tempati hari ini dapat di gusur oleh pemerintah kota. Karena rumah yang berdiri di tanah pemerintah.(AM)