Kini  sayuran organik banyak diminati oleh sebagian besar warga Salakan, Bangunharjo, Sewon Bantul. Minat konsumen untuk membeli sayur organik memang cenderung meningkat seiring tingginya minat gaya hidup sehat di lingkungan masyarakat. Cara bertani yang berbeda membuat kandungan nutrisi dalam sayuran juga berbeda. Meskipun tidak disebutkan efek sayuran organik terhadap kesehatan, studi terbaru menunjukkan bahwa sayuran organik mengandung antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran biasa. Sosialisasi kami mengenai pentingnya sayuran organik membuat warga Dusun Salakan banyak meminati sayuran organik.

Untuk memenuhi minat tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Ahmad Dahlan (KKN UAD) Periode 54 Tahun 2017 Unit I.A.1 dan I.A.2 membuat program Perintisan Dusun Organik. Program ini memiliki tujuan untuk menumbuhkan minat warga Dusun Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul untuk mengkonsumsi sayuran organik. Program yang kami buat merupakan hasil diskusi dengan para tokoh masyarakat. Program tersebut diberi nama Program Sayoga (Program Sayuran Organik Keluarga) dan diniatkan sebagai bentuk awal perintisan Dusun Organik. Tentu orang bertanya mengapa program kami diberi nama Program Sayoga. Alasan kami sangat sederhana saja, yakni karena kita telah mengenal tanaman obat keluarga (Toga). Oleh karena itu tidaklah asing jika kita rintis sayuran organik keluarga.

Awal pencetusan program ini diawali dari mulai banyaknya minat warga Salakan terhadap sayuran organik hal ini terlihat dari adanya permintaan warga Salakan untuk mengadakan program ini. Program Sayoga ini dibuat dengan tujuan utama adalah merintis dusun Salakan dan sekitarnya sebagai dusun organik untuk mensejahterakan warganya. Perintisan ini mengajak warga dusun Salakan dan sekitarnya untuk dapat menanam sayuran organik di rumah masing-masing guna memenuhi kebutuhan sendiri dan jika hasilnya berlimpah bisa dijual untuk warga yang belum menanam sayuran organik tersebut.

Cara menanam sayuran organik keluarga dilakukan dengan menggunakan teknik menanam verticultur dan memanfaatkan barang bekas sebagai tempat menanam sayuran. Jadi program ini juga mengandung kegiatan pemanfaatan limbah. Selain itu dengan menanam Sayoga warga dapat menghemat pengeluaran ekonomi karena warga tidak perlu membeli banyak sayuran. Warga yang menanam sayuran di rumah masing-masing.

Program Sayoga ini dimulai dengan sosialisasi kepada warga Dusun Salakan dan sekitarnya. Berawal dari sosialisasi itu, muncul kader-kader sayoga di setiap RT. Selanjutnya   para kader tersebut kami jadikan contoh bagi warga yang lainnya. Melalui para kader inilah kami dapat mempraktikan cara pembuatan sayoga tersebut.  Harapan kami, melalui para kader sayoga tersebut tanaman sayoga yang ditanam di lingkungan rumah setiap warga dapat diawasi. Artinya, jangan ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan keluarga. Kesalahan tersebut misalnya, demi suburnya tanaman warga menggunakan pupuk nonorganik. Itu betul-betul harus dicegah.

Adapun kader yang kami peroleh per RT adalah Ketua RT 09, Ibu-Ibu PKK RT 01, dan Ketua RT 02. Suratno, sebagai Ketua RT 09 menyatakan siap untuk menjadi kader program perintisan Dusun Organik ini. Bahkan Suratno mengizinkan Mahasiswa KKN untuk membuat sayoga di halaman rumahnya sebagai contoh warga di RT 09. Selain Suratno, ada juga pemuda bernama Soni, anak Ketua RT 02 yang membantu kami dalam merintis sayoga tersebut. Soni yang Sarjana Pertanian tersebut mengizinkan kami belajar menanam sayoga di lahan halaman rumahnya. Kami diajari melakukan penyemaian sayoga dan kemudian kami juga diajari menanam sayoga dengan baik dan benar. Berbekal ilmu dari Soni kami melakukan program sayoga. Soni tidak sempat melakukan program sayoga di kampungnya sendiri karena berbagai kegiatan yang dilakukan di luar kampong. Melalui kami mahasiswa KKN program sayoga dilaksanakan.

Pada sosialisasi ini dijelaskan cara menanam sayoga pada para kader dan warga yang tertarik. Kami jelaskan bahwa penanaman sayoga tidak perlu menggunakan lahan yang luas, cukup memanfaatkan sedikit lahan yang ada di rumah warga. Itu kami laksanakan karena dari hasil pengamatan saat survey, lahan kosong untuk dapat ditanami sangatlah sedikit dan penduduknya pun padat. Hasil survey kami pada sebagian warga di RT 01 dan 02 diperoleh bahwa sebagian besar limbah yang dikonsumsi oleh warga yaitu limbah plastik seperti botol plastik, gelas plastik, limbah sayuran yang tidak terpakai, dan bahkan limbah kotoran ayam. Kita dapat menyimpulkan bahan-bahan tersebut dapat digunakan untuk media-media tanaman, sebagai contoh yaitu botol-botol bekas dan gelas plastik bekas dapat dijadikan pot untuk menanam sayoga, sedangkan sayuran dan kotoran ayam dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan pupuk organik. Selain diberikan penjelasan tentang media tanam, penempatan tanaman juga harus diperhatikan. Misalnya, tanaman tidak terkena matahari langsung, tanah tidak terlalu kering, hindarkan dari serangga misalnya ulat dan belalang maupun binatang peliharaan seperti ayam, itik, dan sebagainya.

Selanjutnya, dari sosialisasi tersebut kami mengumpulkan perwakilan dari ibu-ibu PKK per RT untuk menjadi  kader sayoga yang akan dibekali dengan  melakukan praktik penanaman sayoga. Pada saat melakukan praktik penanaman, sebelumnya ibu-ibu PKK sudah membawa botol-botol bekas untuk dijadikan media penanaman. Kami mahasiswa KKN UAD menyediakan bibit sayuran dan pupuk  organik. Cara penanaman sayoga sangatlah mudah dan dapat dilakukan sendiri di rumah. Pertama limbah botol bekas diberi lubang pada bagian badan botol serta diberikan lubang-lubang di bagian bawahnya. Lubang-lubang tersebut berfungsi untuk tempat sirkulasi air. Kemudian botol diisi media tanam yang sudah disiapkan seperti tanah yang dicampur dengan pupuk, lalu semprotkan sedikit air, kemudian taburi dengan benih yang sudah disiapkan. Untuk pembibitan sediakan media tanam yang halus dan subur. Tempatkan dalam wadah-wadah semai atau dalam pot. Bibit yang masih baru tidak terlalu memerlukan banyak perlakuan. Setelah penyemaian, hanya perlu menjaga kelembaban dengan siraman air pagi dan sore. Tempatkan di area yang tidak terlalu terik atau tidak terkena sinar matahari langsung.

Setelah beberapa hari benih sayuran akan mulai tumbuh, lama waktu tumbuh berbeda-beda sesuai dengan jenis sayuran yang ditanam. Umumnya untuk sayuran selada akan tumbuh setelah 2 sampai 3 hari. Setelah 1 minggu atau sekiranya akar sudah kuat bibit tanaman dapat dipindahkan ke dalam pot tersendiri agar sayuran dapat tumbuh dengan maksimal. Pada tahap inilah tanaman sayoga memerlukan perawatan karena daun-daun sudah mulai tumbuh besar dan rawan terserang hama dan penyakit. Penyakit yang sering menyerang ialah penyakit busuk akar yang disebabkan oleh cendawan Rhizoctoniasolani Khun. Penyakit ini sering menyerang tanaman muda (waktu dipersemaian). Selain penyakit, ada juga hama yang mengancam pertumbuhan tanaman seperti adanya ulat dan kutu-kutu daun (Mysuspersicae Sulzer). Hama tersebut merupakan serangga vektor penyakit virus yang menimbulkan kerugian dan kegagalan tanaman. Untuk itulah pada masa ini perlu raji memeriksa kesuburan sayoga. Sayoga dapat mulai dipanen ketika sudah mencapai waktunya seperti sayuran selada dapat dipanen setelah berumur 40 hari dari waktu tanam. Ciri-ciri selada sudah dapat dipanen adalah daun hijau dan melebar. Tanaman yang terawat dengan baik dan tidak terserang penyakit akan sangat bagus untuk dikonsumsi. Tentunya tanaman ini harus seimbang, antara harus terkena sinar matahari dan jangan terlalu lama terkena sinar matahari. Tanaman jika terlalu banyak sinar matahari batangnya pendek dan warna daun menjadi kekuning-kuningan. Apabila terlalu sedikit terkena sinar matahari, batangnya menjalar panjang karena tanaman tersebut mencari sumber sinar matahari.

 

Membudidayakan sayoga saat ini sudah berkembang di RT 01,02, dan 09 Dusun Salakan dan sekitarnya. Masyarakat sangat merespon positif program sayoga sebagai Perintisan Dusun Organik. Menanam sayuran secara organik akan menghasilkan sayuran organik yang bergizi tinggi. Tidak ada kandungan kimiawinya karena memang pupuk yang digunakan selama proses penanaman pun dibuat dengan pupuk alami. Selain itu juga untuk warga Salakan, lebih aman karena kesehatan mereka akan lebih terkontrol dengan sayuran yang mereka tanam sendiri, sebab tidak lagi bersentuhan dengan bahan-bahan kimiawi. Melalui program sayoga ini selain warga dapat menjadi lebih sehat dengan mengkonsumsi sayuran organik, warga juga dapat memanfaatkan dan mengolah limbah rumah tangga yang dihasilkan berupa limbah botol dan sampah organik sebagai pupuk dalam menanam sayoga.

Sayuran organik memiliki banyak manfaatnya bagi kesehatan, diantaranya sayuran organik mengandung vitamin dan mineral yang kompleks, seperti vitamin A, B, C, dan D, serta zat besi, kalsium, selenium, dan lain sebagainya. Sayuran organik juga diyakini akan membebaskan manusia dari resiko terkena kanker. Saat ini masyarakat mulai banyak yang menyadari betapa pentingnya kesehatan, sehingga sedikit banyak mulai berfikir tentang makanan organik. Makanan organik adalah makanan yang dikembangkan/diproduksi secara alami, tanpa obat-obatan, tanpa rekayasa genetika, tanpa hormon pertumbuhan, tanpa antibiotik, tanpa vaksinasi, dll. Pada intinya, makanan organik adalah makanan yang diproduksi secara alami. Mengkonsumsi makanan organik termasuk sayurannya akan lebih baik. Apalagi kalau sayuran itu ditanam sendiri.