Menjadi sarjana ternyata tidak pernah semudah yang kami bayangkan. Memindahkan seutas tali dari kiri – kanan tidak semudah lidah kami berjanji, bahkan jauh dari kata ‘gampang’. Bukan hanya air mata orang tua kami yang bercucuran bercampur keringat dan juga darah namun juga mengorbankan ego kami sebagai anak dengan atas nama mahasiswa.

Proses untuk meraih cita-cita dan juga amanah keluarga memang tidak pernah mudah. Selalu saja ada pengorbanan dan derita. Namun kami paham, itu adalah proses yang harus kami tempuh, agar kami menjadi yang disebut ‘orang’. Pada dasarnya perjuangan kami bukan dimulai dari bangku perkuliahan, tetapi dari sinilah kami mendapat bekal nyata guna berjuang yang sebenarnya. Dimulai dari Kuliah Kerja Nyata, kami harus terjun langsung ke masyarakat dan memberdayakannya. Tunggu dulu, tidak semudah itu pula untuk mengikuti KKN, kami harus lulus TBQ yang memang kewajiban bagi kami untuk mendapat nilai tertulis di selembar kertas dengan menimal B. Namun bukan itu yang didapat, yang kami dapat adalah kesabaran, keuletan, dan juga ilmu sebenarnya.

Inilah kami, mahasiswa KKN Reguler PPuN Unit I.C.2 yang ditempatkan di kabupaten karawang, jawa barat. Tidak pernah terbesit sedikitpun di benak kami akan KKN sejauh ini dari kota Kesultanan yang penuh keramahan, beralih ke kota industri yang masih memegang kemistisan pada masyarakatnya. Kami bukan hanya dari satu jurusan, bahkan kami bukan hanya satu pulau. Inilah kami I.C.2 yang berasal dari Bima, Karimun Jawa, Sulawesi, Bandung, Bengkulu, Madura, Jateng dan Kota Sultan Yogyakarta. Dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Biologi, Sastra Inggris, Teknik Informatika, Sistem Informasi, Manajemen dan Sastra Arab. Budaya, kultur dan kebiasaan yang berbeda pun dengan pendidikan keluarga yang berbeda.

Tiba saatnya kami dipertemukan, via aplikasi bernama Whatsapp, dari aplikasi itulah kami akhirnya bertatap muka. Awal pertemuan yang cukup dikata syahdu dan akrab. Canda tawa langsung mencair begitu saja, namun tidak menutup kemungkinan masih menjaga privasi. Pertemuan-pertemuan selanjutnya semakin menjadikan keakraban bagi kami, sedikit demi sedikit kami mulai tahu watak dan sikap setiap individu. Sebenarnya, kami terdiri dari 9 orang, dengan 5 lelaki dan 4 perempuan, namun sebab lain menjadikan kami menjadi 8 orang. Salah satu dari kami harus mengulang KKN tahun depan. Bukan kami tidak menyayangkan ini, kami sangat menyayangkan hal ini, teman kami harus ikut KKN tahun depan karena kurangnya keaktifan ia dalam setiap kegiatan yang kami adakan, setiap pertemuan yang kami rencanakan. Bukan kami tidak mengingatkan, bahkan sudah berulang kali,  hingga akhirnya keputusan terakhir kami ambil, yaitu mengadu ke DPL dan juga LPM. Keputusan bulat sudah, LPM meminta kepada teman kami eks untuk mengulang KKN tahun depan, itu artinya ia harus berhenti dan tertunda dalam menyelesaikan amanah kedua orangtuanya. Namun inilah pelajaran dan juga konsekuensi yang harus ia tanggung.

Beberapa waktu sudah berlalu, pertemuan-pertemuan semakin sering kami lakukan di tengah-tengah kesibukan kami dan juga kesibukan awal puasa. Mulai rapat setelah selesai shalat tarawih. Kami benar-benar harus mengubur ego kami dalam waktu dan juga kegiatan lain yang mungkin saja untuk keluarga maupun teman. Hingga pada akhirnya….

apa?? Karawang ?

itulah kata yang terlontar dari bibir kami begitu tahu dimana kami akan diletakkan. Ya. Karawang adalah tempat kami akan tinggal selama satu bulan, bahkan lebih. Lalu bagaimana dengan program kerja yang sudah kami susun ? bermanfaatkanh di sana? Sedangkan kami tahu, Karawang bukan lagi kota kecil, Karawang bukan kecamatan ataupun kabupaten tanpa penghasilan. Karawang adalah kota dengan gaji tertinggi di Indonesia, dengan Industri, dengan masyarakat mulai individualis dan yang terpenting adalah kota panas dengan polusi dan juga sampah yang mulai menjadi permasalahan.

Tepat tanggal 29 juli kami meninggalkan kota Jogja dengan perlengkapan yang seabreg layaknya pindah rumah. Perjalanan tidak begitu melelahkan bagi kami, karena kita tahu ada penyambutan di karawang untuk kami. Namun pada kenyataannya penyambutan tidak seperti yang kami harapkan, kami yang survey hanya melalui internet kini kami telah menginjak kaki di tanah perjuangan Soekarno. Penyambutan pertama kali dilakukan oleh sekretaris dan wakil sekretaris PDM Karawang. Tibalah kami di penginapan yang sudah disediakan utuk kami selama sebulan, namun tempat yang angankan tidak seindah itu. Kami 26 orang harus bersih-bersih gedung untuk kami tinggalin selama satu bulan. Debu, becek, serta barang-barang yang berserakan kami bersihkan, karena memang kami ditempatkan di gedung yang menyatu dengan sekolah yaitu Gedung Darul Arqam.

Berbagai rintangan kami hadapi, dari permasalahan tempat tinggal untuk putra-putri yang harus dipisah hingga tercecernya dan terbengkalainya beberapa kegiatan. Namun inilah cerita kami, kegiatan dan program kerja, kemudian kegiatan sehari-hari semua  kami lakukan bersama. 26 orang menjadi satu tempat tinggal bukanlah hal mudah, dengan pemikiran yang berbeda-beda, namun ada yang menjadikan kami adalah keluarga besar yaitu masak yang sudah kami jadwalkan. Dari sana tumbuh rasa saling memiliki, menyayangi, saling memahami dan saling mengerti sikap dan karakter setiap seseorang. Bukan mudah memahami itu, bahkan teramat sulit.

Seiring berjalannya waktu, permasalahan-permasalah yang terlantar mulai terpecahkan. Misalnya cipta lagu anak edukatif yang seharusnya kami laksanakan di awal penerjunan kami ganti dengan di akhir. Hal  ini melibatkan dinas dari kota karawang, sebab tanpa adanya tanda tangan mengetahui pihak dinas maka tidak akan ada guru yang datang lantaran kami adalah Muhammadiyah. Permasalahan awal adalah primitifnya masyarakat karawang yang membedakan organisasi menjadi sebuah jurang penghalang agama dan kerukunan.

Sedikit demi sedikit kami mendapatkan apa yang kami harapkan, misalnya mulai terbukanya hati masyarakat untuk kami mahasiswa KKN yang berasal Muhammadiyah. Dengan memperkenalkan program kerja, kemudian dikolaborasikan dengan kegiatan dan program kerja yang ada pada masayrakat hingga menjadi harmoni bagi kami kami.

Satu bulan penuh telah kami lalui,  tangis, tawa, canda juga luka. Kini 31 Agustus menjadi titik penghujung kebersamaan kami. Tidak ada cerita tanpa cinta, begitupun kisah kami. Kebersamaan yang telah kami lalui selama ini, menjadi tonggak untuk kami meniti masa depan yang lebih mandiri. Kami tahu cerita kami tidak sedatar jalan tol, namun inilah cerita kami layaknya jalan berbatu dan berlumpur.